Sebelumnya, saya mengucapkan Selamat Idul Fitri 1430 H, Minal Aidin wal Faidzin, mohon maaf lahir dan batin atas kesalahan yang telah terbuat.
Kampung halaman saya berada di Mojokerto, sebuah kota kecil yang berada di provinsi Jawa Timur, berjarak sekitar 50 kilometer dari ibukota Jawa Timur, Surabaya. Saya biasa menempuh perjalanan Mojokerto-Surabaya dalam waktu 1 jam menggunakan motor. Saat ini saya tinggal di kota Medan, merintis karir sebagai seorang PNS Departemen Keuangan R.I., tepatnya di Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Medan I, sebuah instansi berada di bawah Direktorat Jenderal Perbendaharaan.
Tapi jangan mengira jika saya berjalan kaki untuk mudik Medan-Mojokerto sesuai dengan judul blog saya ini. Kaki saya tidak sekuat itu, dan tentu saja… saya tidak segila itu. ‘MODAL KAKI‘ adalah sebuah istilah untuk menggambarkan ispirasi dan ilmu yang saya dapatkan saat berlibur ke Bandung.
Momen lebaran lalu membawa kenikmatan tersendiri bagi diri saya pribadi. Selain bisa mudik dan berkumpul kembali bersama keluarga di hari suci, juga menyambung tali silaturahmi dengan kerabat dan rekan di kampung halaman. Saya juga membukukan satu lagi cerita dalam hidup saya, yaitu menyeberangi jembatan Suramadu (Surabaya-Madura), yaitu jembatan terpanjang di Indonesia yang menghubungkan Pulau Jawa dan Madura -panjangnya lebih kurang 5 kilometer. Momen itu merupakan salah satu dari sekian banyak aktivitas menyenangkan yang saya lewati bersama keluarga.
Tapi ada satu hal lagi yang saya dapatkan saat liburan kemarin, yaitu ilmu dan inspirasi yang saya dapatkan ketika berlibur ke kota kembang, Bandung. Ilmu dan inspirasi ini saya dapatkan dari seorang ibu berusia 55 tahun dengan 2 putra kandung -tapi dia juga sosok ibu dan guru bagi banyak ‘anak-anak’nya yang saya yakin juga mendapatkan inspirasi serupa seperti saya. Namanya Ibu Retno, mantan Kepala Pabrik Villour -produsen kostum bagi beberapa klub sepakbola yang berlaga di Djarum Indonesia Super League. Saat ini beliau menjalankan sebuah usaha network marketing bagi sebuah perusahaan MLM (Multi Level Marketing) bertaraf internasional. Penampilan beliau lumayan tomboi -menurut saya- dan di usianya yang telah melewati setengah abad, beliau masih juga fresh looked.
Kali ini saya tidak akan menyoroti tentang usaha MLM tersebut, tapi apa yang telah saya dapatkan melalui sebuah diskusi kecil antara saya dan Bu Retno. Di awal diskusi, beliau menanyakan kepada saya, “Kamu tahu apa kesalahan para orang tua di masa sekarang?” Ketika saya jawab tidak, beliau mengatakan “Para orang tua mengajarkan anak-anak mereka untuk menjadi ‘pembantu’.”
Ya, sama seperti Anda sekarang, saya saat itu juga terheran mendengar jawaban tersebut. Seakan mengerti dengan perasaan saya, beliau melanjutkan penjelasannya dengan memperkenalkan teori Cashflow Quadrant yang dicetuskan oleh Robert T. Kiyosaki dalam bukunya berjudul The Cashflow Quadrant. Sekilas tentang Robert T. Kiyosaki, adalah penulis buku bestseller berjudul Rich Dad Poor Dad.
Teori Cashflow Quadrant membagi profesi (atau mungkin lebih tepatnya keadaan finansial kita) ke dalam 4 bagian. Dua profesi menempati kuadran kiri dan 2 lagi menempati kuadran kanan.
E = Employee (karyawan). Misal : pegawai kantoran, PNS, buruh pabrik, dll;
S = Self-Employee (pekerja lepas, profesional). Misal : Dokter, pengacara, dll;
B = Businessman. Misal : Pemilik waralaba, wiraswasta, dll;
I = Investor. Misal : Pemegang saham, pelaku network marketing, dll.
Bagi sebagian besar orang tua -termasuk orang tua saya, mereka cenderung mengajarkan anaknya untuk bekerja dengan ‘nyaman’ di kuadran kiri yang dihuni oleh Employee (karyawan) dan Self-Employee/Professionals. Sebagian dari kita sendiri-pun merasa demikian… betul? Orang tua -juga kita- beranggapan bahwa ini adalah posisi aman, dimana kita bekerja mengikuti sistem (baca : perintah bos) dan menerima gaji secara teratur. Atau menerima upah saat pelanggan menggunakan produk/layanan kita. Inilah yang dimaksud dengan ‘pembantu’.
Mereka yang mengandalkan kebutuhan finansialnya di kuadran kiri, berada di posisi rawan dengan risiko finansial tinggi. Jika musibah menimpa (misal: sakit, kematian) atau izin tak masuk kantor, maka pendapatan mereka akan terhenti. Demikian juga para profesional, kondisi yang sama berlaku pada mereka. Makin banyaknya pesaing, juga memposisikan mereka di ‘ujung tanduk’. Khusus bagi para karyawan, jalur menuju promosi dan jabatan tinggi juga harus dilalui dengan susah payah. Mereka bekerja di bawah pimpinan dan perintah satu pemimpin mutlak yang berada di ‘kursi puncak’.
Tapi coba bayangkan jika Anda berada di kuadran kanan, sebagai pelaku bisnis atau investor. Bahkan saat Anda berlibur dan tak bekerja-pun, penghasilan Anda tetap jalan, uang yang bekerja untuk Anda. Pelaku bisnis juga memimpin orang-orang yang berada di bawahnya dan menjalankan sistem di bawah komando Anda. Bayangkan jika Anda berada di posisi puncak dari struktur organisasi milik Anda sendiri! Nyaman bukan?!
Posisi Investor mungkin yang paling menjanjikan. Tak perlu capek mengatur bawahan, uang sepenuhnya telah bekerja untuk Anda. Masalahnya, posisi ini membutuhkan persyaratan yang paling kompleks dan jeli untuk membaca peluang. Pastikan terlebih dahulu Anda menginvestasikan uang Anda di perusahaan/bidang yang berpotensi dan berprospek cerah dan terpercaya. Jika perlu, Anda membangun sebuah jaringan dengan menggandeng mitra bisnis.
Untuk menjadi seorang yang bermental pemimpin dan menghilangkan image ‘pembantu’ kita, diperlukan modal yang terkesan sangat sederhana dan sepele, yaitu MODAL KAKI. Ya, memang terkesan sepele, tapi MODAL KAKI yang ini sesungguhnya adalah prinsip yang harus kita pegang untuk mewujudkan impian hidup kita, bukan hanya sebatas angan-angan.
MODAL KAKI yang saya maksud adalah :
M = Masterpiece (Mahakarya)
Sebagai seorang manusia, kita memerlukan sebuah mahakarya yang harus kita miliki untuk menunjukkan kelas kita. Perusahaan mobil mempunyai masterpiece yang luar biasa berkelas dan menempatkan perusahaan itu di daftar perusahaan ternama dan ‘dihormati’. Sebagai contoh, perusahaan mobil Ferrari mempunyai masterpiece berupa Ferrari 599 GTB Fiorano yang dinobatkan sebagai ‘The F40 for the 21st Century’ car.
Anda semua pasti punya impian. Wujudkan impian Anda, jangan hanya sebatas angan-angan. Wujudkan impian terbesar Anda, masterpiece Anda. Menurut Ibu Retno, salah satu caranya adalah dengan menuliskan impian terbesar Anda atau meletakkan gambarnya di dinding kamar tidur Anda, sehingga kapanpun Anda terbangun atau menjelang tidur, pikiran Anda akan terfokus dan mengingatkan Anda untuk terus mewujudkannya.
O = Opportunity (Kesempatan)
Anda percaya istilah ‘Kesempatan hanya datang satu kali’? Saya dan Ibu Retno tidak berpendapat demikian. Allah SWT memberikan kesempatan bagi hamba-Nya yang ingin terbuka, tak pernah ada kata terlambat. Lihatlah kesempatan itu, manfaatkan… jangan hanya terpaku dan melewatkannya. Ingatlah, lebih baik kita melakukan sebuah kesalahan dan mengambil hikmah dan pelajaran dari kesalahan itu, untuk kemudian mencobanya kembali dengan lebih baik, daripada kita hanya berdiam diri dan tidak melakukan apapun. Kita semua punya kemampuan untuk bangkit kembali.
D = Destination (Tujuan)
Apa impian Anda? Apa tujuan hidup Anda? Jangan hanya bermimpi, tapi wujudkan mimpi Anda. Kita semua punya impian. Fokuskan pikiran Anda, positive thinking dan berusahalah menggapainya. Jadikan impian Anda sebagai motivasi Anda dan carilah orang yang bisa menjadi inspirator Anda. Inspirator bukan hanya mereka yang sukses, tapi mereka yang selalu berusaha tanpa kenal menyerah untuk meraih kesuksesan. Contohlah petani yang selalu bekerja keras tanpa lelah walaupun terkadang ladang mereka terkena banjir atau hama. Ingatlah, tak ada yang TAK MUNGKIN.
A = Attitude (Sikap/karakter)
Bentuklah karakter diri Anda mulai sekarang. Mana sifat Anda yang positif dan mana yang negatif, pelajarilah. Ingatlah sifat buruk Anda ketika Anda mendapatkan masalah, dengan begitu kita lebih mudah untuk mengendalikannya sebelum menjadi bumerang bagi kita dan memperkeruh masalah. Emosi yang meledak membuyarkan logika kita dan mengganggu pikiran rasional kita. Manajemen emosi yang baik bisa menghasilkan hal yang positif. Berpikirlah sebelum bertindak, tapi jangan pernah berpikir dengan emosi.
L = Learning (Belajar)
Kita bisa karena kita belajar. Belajarlah menjadi individu yang lebih baik dari sekarang, individu yang bermental baja, berpikir positif, dan percaya diri. Jika perlu, jadilah inspirator dan teladan bagi orang lain. Tapi jangan mengajarkan orang lain atau anak Anda untuk menjadi ‘pembantu’.
K = Komitmen
Anda punya impian, maka berkomitmenlah untuk mencapainya. Komitmen juga berarti tanggung jawab. Pegang komitmen Anda untuk mewujudkan impian Anda. Bersikaplah tegas dan jangan pernah merasa kasian pada orang lain, tapi bantulah mereka demi kebaikan.
A = Aksi/perbuatan/usaha
Anda mempunyai impian dan anda berkomitmen untuk mewujudkannya. Sekali lagi, berusahalah. Jangan hanya bermimpi tapi miliki impian dan wujudkanlah.
K = Kerja Keras
Seperti yang saya bilang sebelumnya, contohlah petani yang tak pernah kenal menyerah. Walaupun dia gagal, tapi selalu mencoba lagi, tak pernah menyerah. Belajarlah dari kesalahan dan kegagalan Anda. Tak ada kesuksesan yang didapat dengan instan.
I = …………… Apa menurut Anda?
Di bagian terakhir ini, Bu Retno menanyakan kepada saya, apa kira-kira arti dari huruf ‘I’ ini. Untunglah saat itu jawaban saya benar. Sekarang giliran saya bertanya pada Anda, Apakah menurut Anda arti huruf ‘I’ ini?
Jika jawaban Anda ‘Iman’ atau ‘Izin Tuhan’, Anda benar. Semua tak bisa diraih tanpa kuasa Tuhan. Sebagai seorang muslimin, saya berdoa kepada Allah. Allah punya kuasa, Allah punya rencana, kita manusia hanya bisa berusaha. Lihatlah petunjuk-Nya. Subhanallah!
==========================================================================
Sebenarnya masih banyak yang Ibu Retno ajarkan kepada saya. Termasuk mengajarkan kepada saya tentang jodoh, hubungan sosial, dan bahkan cara mendidik anak dengan benar. Tapi sepertinya hal itu akan saya simpan dulu di dalam pikiran saya dan tak akan pernah terlupakan, Insya Allah. Yang jelas, ilmu saya bertambah, mata hati saya terbuka lebih lebar.
Tak ada yang namanya kebetulan di dunia ini, itu yang saya dan Bu Retno yakini. Semua terjadi atas rencana Allah SWT. Kita tak pernah tahu akan berjumpa dengan siapa dan apa yang akan terjadi. Allah punya kuasa, Allah memberikan petunjuk dan tanda-tanda kekuasaan-Nya.
‘Dan katakanlah, ‘Segala puji bagi Allah, Dia akan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kebesaran-Nya, maka kamu akan mengetahuinya. Dan Tuhanmu tiada lalai dari apa yang kamu kerjakan.’ (QS. an-Naml: 93).
‘Sesungguhnya di langit dan di bumi benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk orang-orang yang beriman.’ (QS. al-Jatsiyah : 3).
Terima kasih, Ibu Retno.
Salam,
Arisandy Joan Hardiputra, S.E.



Recent Comments