Minggu siang, 6 Desember 2009, saya memangkas habis rambut saya dengan alasan ingin berganti gaya dan model rambut. Rekan-rekan kerja saya berkomentar tentang penampilan baru saya yang katanya merupakan usaha untuk buang sial. Saya merespon dengan ketawa dan tersenyum kecut. Malah terkadang saya balas dengan sebuah lelucon. Harusnya saya tahu, botak saya itu malah membawa sial. Lho, apa hubungannya?
Keesokan hari, Senin, 7 Desember 2009 sekitar pukul 21.00 WIB, kamar kontrakan saya disatroni maling. Ponsel, jam tangan, dan dompet berserta isinya raib. Kerugian diperkirakan mencapai 3 juta rupiah, belum termasuk biaya pengurusan kembali kartu-kartu yang hilang seperti ATM, kartu kredit, KTP, SIM, dan STNK, serta sakit hati, trauma, shock, dan perasaan dongkol yang tidak akan bisa terobati.
Hari itu memang hari sial buat saya pribadi. Rangkaian cerita dan pertanda kesialan saya berawal dari saat pulang kantor. Seperti biasa, sebelum pulang kantor, setelah pukul 17.00 WIB, semua pegawai harus melakukan absensi melalui mesin Handkey, yaitu mesin yang akan merekam data telapak tangan sebagai pertanda kehadiran kita. Mungkin seperti sidik jari begitu. Setiap kali data tangan berhasil terekam, mesin Handkey akan menampilkan angka/nomor pada monitor yang menunjukkan tingkat akurasi data tangan pada saat absensi dengan perekaman awal yang menjadi database (bentuk tangan, kelembaban, dsb.). Indikator angka menunjukkan 1 s.d. 100. Semakin kecil angka yang muncul, berarti semakin akurat data yang terekam. Sore itu, seperti rekan-rekan kerja yang lain, saya melakukan absensi pada mesin Handkey. Setelah memasukkan kode PIN, saya meletakkan telapak tangan saya di scanner. Beep… mesin berbunyi sekali, pertanda data tangan saya telah terekam pada saat itu, monitor Handkey menampilkan angka ’13.’
“Angka sial,” Begitu pikir saya. Tapi seperti biasanya, pikiran itu hanya berlalu begitu saja. Saya benar-benar tidak menyadari bahwa itu adalah pertanda awal kesialan yang akan saya hadapi.
Hari itu, rekan sekantor –sekaligus teman serumah- saya kebetulan menumpang pulang. Kami berboncengan menyusuri jalanan kota Medan yang mulai gelap dirundung senja. Kami menyempatkan diri mampir di sebuah warung yang menjual masakan-masakan khas Surabaya untuk membeli gado-gado sebagai menu makan malam setibanya di rumah. Warung itu telah menjadi langganan saya selama saya berada di Medan (lebih-kurang 7 tahun). Saya menyempatkan diri kesana apabila merasa kangen dengan masakan khas kampung halaman saya di Jawa Timur. Rasa dan suasananya benar-benar ‘Arek Suroboyo banget!” Seporsi gado-gado dibanderol dengan harga 10 ribu rupiah. Kami memesan masing-masing sebungkus.
Ketika saya hendak membayar, saya iseng bertanya kepada penjualnya, “Piro (berapa), Mbak?”
“Telung puluh (tiga puluh), Mas.” Itu yang saya dengar.
“Lho, mundak to (Lho, naik ya)?” Tanya saya kembali sambil menyerahkan selembar uang 50 ribu rupiah.
Sesaat kemudian, ibu pemilik warung menyerahkan uang kembalian kepada saya berupa pecahan uang 20 ribu dan 10 ribu rupiah, masing-masing selembar. Wah, ternyata saya salah dengar, harga seporsi gado-gado masih tetap 10 ribu rupiah. Pertanda kedua kesialan saya?
Sepulang dari warung, kami berdua kembali menyusuri jalanan kota Medan, hingga tiba di simpang jalan Sei Sikambing-Gatot Subroto. Saat itu lampu lalu lintas kebetulan baru berganti warna merah dan menunjukkan angka mundur mulai 150. Wah, merasa kelamaan menunggu, saya memutuskan untuk memilih jalan pintas dengan masuk ke sebuah jalan kecil (saya biasa melalui jalan ini untuk menghindari patroli polisi motor. He…666x). Dasar sial, ‘jalan tikus’ itu ditutup untuk renovasi sistem drainase (selokan). Akhirnya saya memutuskan untuk melalui jalan kecil di sebelahnya –yang belum pernah saya lalui sebelumnya, dan sialnya, jalan ini ternyata menuju ke pasar tradisional Sikambing yang joroknya minta ampun, kotor, dan sangat bau.Aromanya lebih buruk daripada bau kaos kaki sepakbola/futsal saya yang tidak dicuci sebulan… Luar biasa, inilah alasan saya dari dulu menolak mengantarkan ibu saya berbelanja ke pasar tradisional (jadi bukan karena tidak sayang dengan ibu kandung saya. Mohon maaf juga buat –calon- istri saya nantinya kalo saya menolak mengantarkannya ke pasar tradisional). Kesialan saya tidak berhenti sampai disitu, kami tetap nekat memacu ‘Si Hitam’ –motor saya- melalui jalanan becek berlumpur, penuh lubang, dan sempit. Hingga hampir tiba di ujung jalan, kami terhambat oleh sebuah truk sampah yang saat itu mengangkut semua sampah dari pasar. Ya ampun, aromanya membuat saya mau muntah di dalam helm. Lebih sial lagi karena ternyata pengemudi truk cuek saja ketika kami minta dibukakan jalan untuk lewat. Semua penghuni pasar juga menoleh sinis ke arah kami. Menghindari konfrontasi lebih jauh dengan preman pasar, kami putuskan untuk berbalik arah dan kembali melalui jalan besar… dan harus rela terjebak oleh lampu merah. Ya, perjuangan yang sia-sia dan bodoh, bukan?!
Sesampainya di rumah, saya melepas penat dengan menonton televisi sambil menyantap gado-gado. Acara TV di salah satu stasiun swasta hari itu menyiarkan komedi favorit saya yang digawangi oleh trio Cagur. Coba tebak, episodenya bercerita tentang tuyul –sejenis makhluk gaib yang digambarkan sebagai sosok berbadan kecil, tanpa busana, dan pekerjaannya mencuri harta manusia untuk diberikan kepada tuannya. Mengingatkan Anda kepada saya? Sekarang Anda tahu apa hubungan penampilan rambut baru saya yang botak dengan episode tuyul dan peristiwa pencurian yang saya alami nantinya.
Selepas menonton acara tersebut, tiba-tiba saya merasa kepanasan dan bermaksud keluar menuju kedai untuk membeli minuman segar. Sebelumnya saya bergegas menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Perkiraan waktu saya berada di dalam kamar mandi sekitar 3 menit. Ketika akan kembali menuju kamar, saya terheran karena pintu depan rumah sudah terbuka dan pintu kamar saya juga terbuka lebar. Tanpa berpikir panjang lagi, saya menutup pintu depan rumah dan masuk kembali ke kamar, mengeringkan wajah dan… Ya, ponsel, jam tangan, dompet beserta isinya yang semula berada di atas lemari tidak terlihat lagi.
Semula saya pikir dompet saya tertinggal di warung tempat kami membeli gado-gado tadi sore.Segera saya mengajak kawan saya tadi kembali ke warung untuk mencari dompet saya (walaupun kami yakin saat pembayaran, saya sudah memasukkan dompet ke kantong belakang celana). Sebelum berangkat ke warung, saya berniat membawa ponsel saya.Tapi sialnya, saya tidak menemukannya di kamar, walaupun kasur sudah saya bongkar. Ketika saya minta teman saya menghubungi, nomor saya tidak aktif lagi.Itu tidak mungkin karena baterai ponsel saya dalam keadaan penuh setelah saya recharge malam sebelumnya. Beberapa saat kemudian saya juga tersadar karena jam tangan saya sudah tidak berada di tempatnya lagi, di atas lemari dokumen. Sayapun terduduk lemas… ada pencuri yang telah menyatroni kamar saya tanpa sepengetahuan saya dan teman-teman rumah yang lain yang pada saat kejadian semua berada di dalam kamar masing-masing.
Akibat pencurian itu, kerugian saya perkirakan sebesar 3 juta rupiah. Di dalam dompet yang hilang, tersimpan uang tunai 1 juta rupiah; ATM saya dari 3 bank berbeda; 1 buah kartu kredit; SIM A; SIM C; STNK; Club Card sebuah department store terkemuka yang poinnya jika ditukarkan dengan sebuah voucher, bisa digunakan untuk membeli sebuah kemeja favorit saya dengan model body fit; kartu anggota sebuah distributor market terkemuka di Indonesia; kartu anggota sebagai distributor sebuah perusahaan MLM internasional tempat saya berinvestasi; Kartu NPWP; kartu liburan (voucher) ke New Zealand –walaupun saya tidak tahu kapan menggunakannya; kartu nama klien dan rekan-rekan bisnis saya, kartu anggota Kawasaki, dll. Ditambah dengan sebuah jam tangan ekslusif kado ultah saya yang ke-25 dan ponsel yang di dalam memori phone book-nya penuh dengan nomor teman-teman, relasi bisnis, keluarga, dan juga pacar saya. Materi memang bisa dicari lagi, tapi sakit hati, trauma, shock dan perasaan dongkol mungkin tidak akan pernah sembuh. Kini tiap malam saya sulit tidur nyenyak dan langsung terbangun ketika mendengar suara sedikit saja. Saya juga direpotkan dengan pengurusan kembali kartu-kartu saya yang hilang itu, tentunya tidak semudah membalik telapak tangan dan sangat membuang waktu, tenaga, dan pikiran, serta biaya yang tidak murah. Tapi semua ada nilai positifnya. Kini saya juga menjadi lebih waspada dan memperhatikan detail, serta dituntut lebih sabar dalam menghadapi kesulitan.
Ya, kini bertambah lagi satu alasan kenapa Anda –dan saya- harus membenci hari Senin dan mempercayai bahwa ‘13’ memang angka sial.
Tetap waspada, walaupun mata tertutup, tetapi telinga tetap mendengar dan dengarkan insting Anda berbicara. Adakalanya kita harus sensitif dan mempercayai insting kita sendiri. Wallahualam!
Salam,
ARISANDY JOAN HARDIPUTRA, S.E.
Silahkan kunjungi juga profil Facebook saya, klik http://www.facebook.com/coreycen


Recent Comments