01
Sep
09

Ramadhan Tahun Ini

Tak terasa sudah setahun lamanya sejak terakhir saya menulis blog tentang kegiatan selama bulan Ramadhan tahun lalu. Kali ini saya akan menulis lagi, tentunya dengan kegiatan dan cara penulisan yang berbeda. Ramadhan kali ini bisa dibilang masa transisi buat saya, karena baru kali ini saya mencoba benar-benar berkomitmen sebagai seorang muslim sejati, yaitu mencoba tetap bertahan dari mulai adzan Subuh hingga waktunya berbuka, selama sebulan penuh. Lho, kenapa begitu? Mungkin terdengar konyol karena di usia saya sekarang yang menginjak 27 tahun, saya belum kuat menahan lapar dan haus. Ehm, terutama hal yang kedua, benar-benar tak bisa menahannya, apalagi ditambah dengan kondisi cuaca kota Medan yang panas & lembab. Inginnya minum yang segar-segar begitu. Mungkin ini terbawa sifat masa lalu saya yang memang sedikit bandel.

Tapi ada yang berbeda di Ramadhan kali ini. Ada seseorang yang sangat istimewa bagi saya yang selalu memberikan semangat & motivasi tanpa henti. Dia juga tidak berhenti memberikan ‘ceramah’nya saat saya sedang mengeluh karena lapar dan haus. Mungkin semangatnya yang mendorong saya untuk tetap bertahan sampai waktunya berbuka. Terima kasih, Peri Kecilku!

Ramadhan kali ini saya juga telah menempati tempat tinggal baru, yaitu sebuah rumah kontrakan yang saya tempati bersama dengan keempat teman kantor (Baca juga : Horor di Rumah Baru). Lokasi rumah yang lumayan jauh dari pusat kota/keramaian membuat saya kesulitan mencari jajanan untuk berbuka puasa. Tidak seperti kos saya sebelumnya yang lokasinya berada dekat dengan kampus dan kompleks perumahan Universitas Sumatera Utara (USU). Di areal kampus USU banyak pedagang kaget yang menawarkan jajanannya. Segala macam jajanan tersedia. Uniknya, mereka hanya muncul saat Ramadhan tiba, karena itu disebut pedagang kaget. Salah satu makanan kegemaran saya saat berbuka puasa adalah bubur sumsum, yang tahun lalu hampir setiap hari menemani saat-saat berbuka puasa. Tapi kali ini, saya benar-benar tidak bisa menemukan pedagang kaget dekat rumah yang menjual makanan kegemaran saya itu.

Soal santap sahur, sama saja lebih parah dari Ramadhan tahun lalu. Sekardus mi instan menunggu di dapur dan setia untuk menemani kapan saja saya dan teman-teman serumah bersantap sahur. terkadang kami sedikit memodifikasinya dengan menambahkan telur, nugget, martabak, atau sosis. Tapi tetap saja, mi instan dengan kandungan karbohidrat yang sederhana membuat tubuh saya menyerapnya lebih cepat dibandingkan nasi dengan karbohidrat kompleks. Ujung-ujungnya, perut saya merasa cepat lapar walaupun masih menjelang tengah hari. Akibat lain, saya juga kesulitan mengatur pola makan dan asupan nutrisi pada malam hari, khususnya kebutuhan protein untuk memberi makan otot saya yang mulai melunak. Wah, ancaman bagi saya yang mencoba untuk menjaga tubuh ideal. Malam hari saya gunakan untuk berolahraga, walaupun hanya sekedar sit up atau mengangkat dumbell.

Tapi beragam kesulitan  itu saya anggap sebagai sebuah tantangan untuk menjadi seorang muslimin yang lebih baik. Makna berpuasa bukan hanya sekedar menahan makan dan minum. Sesungguhnya apa yang saya rasakan adalah ujian yang diberikan dari Allah. Tapi saya beruntung karena ada seseorang  istimewa yang selalu berada di dekat saya untuk mendampingi melewati ujian Ramadhan kali ini. Dan mungkin Allah juga telah memberikan balasan-Nya, karena hingga saat ini saya sukses melewati hari demi hari di bulan Ramadhan kali ini dan akhirnya… saya bisa merasakan juga bubur sumsum spesial… mungkin yang paling enak sepanjang hidup saya. Subhanallah!

Lalu, bagaimana dengan Ramadhan Anda kali ini? Adakah hikmah dan cerita istimewa? Silahkan berkomentar!

Wassalamualaikum, Wr. wb.

Salam,

ARISANDY JOAN HARDIPUTRA, S.E.




0 Responses to “Ramadhan Tahun Ini”


  1. No Comments

Leave a Reply