Pagi hari, sesampai di kantor, saya biasa browsing. Situs pertama yg saya buka, tentu saja email. Hampir setiap hari saya mendapatkan notifikasi tentang hal-hal baru yang terjadi di sebuah jejaring sosial, media yang saya gunakan untuk mengeksplorasi dunia pertemanan. Jejaring sosial itu bernama Friendster. Ya, situs yang saat ini Anda akses.
Saya mengenal Friendster, lebih-kurang 5 (lima) tahun yang lalu dari seorang teman dekat saya. Awalnya saya tidak tertarik, kemungkinan belum mengenal betul semua fasilitas & aplikasi yang tertanam di dalamnya. Butuh waktu cukup lama untuk membuat saya akhirnya tertarik dan mulai mengeksplorasinya. Hasilnya… saya ketagihan.
Hingga saat ini, berjuta orang menjadi anggota Friendster, dan setiap hari situs ini diakses dari seluruh dunia. Bayangkan saja seberapa besar profit yang didapat oleh Jonathan Abrams, seorang mahasiswa Harvard University -pendiri Friendster. Mungkin tidak perlu kerja 8 jam sehari, Senin sampai Jumat, seperti saya. Uang dijamin terus mengalir ke rekening pribadi. Sehari jumlah profit yang didapatnya dibandingkan dengan gaji saya sebagai seorang PNS, mungkin equal dengan 100 tahun masa kerja saya. Wow, luar biasa!
Melalui Friendster (atau mungkin jejaring sosial lain), kita bisa mengeksplorasi seluruh dunia, berinteraksi dan berkenalan dengan masyarakat di penjuru bumi manapun, hanya dengan click and go. Bahkan beberapa teman saya memperoleh teman dekat melalui situs pertemanan ini.
Tapi itu dulu. Sekarang, saya merasakan fenomena Friendster mulai meredup. Saya menjadi penasaran dan mencoba mencari tahu. Kalau hal ini kemungkinan disebabkan oleh munculnya kompetitor, saya rasa tidak demikian. My Space, Flixster dan Twitter saya rasa masih belum bisa mengalahkan dan meruntuhkan dominasi Friendster di dunia maya. Lalu muncul sebuah nama yang sama sekali baru saya dengar, Facebook, sebuah situs jejaring sosial lainnya.
Tapi apa Facebook benar-benar muncul sebagai kompetitor baru? Tidak juga. Facebook didirikan tahun 2004 oleh Mark Zuckerberg, juga seorang mahasiswa Harvard University. Hanya saja Facebook menjadi benar-benar populer setelah Barrack Obama -calon presiden AS saat itu- menggunakannya untuk berkampanye. Tidak sia-sia memang, karena Obama akhirnya terpilih sebagai presiden AS selanjutnya, menggantikan George Walker Bush.
Merasa penasaran dengan Facebook, saya mencoba mengakses dan melakukan registrasi sebagai member. Hasilnya? Mengecewakan. Situsnya sangat lambat diakses, dan menurut saya tampilannya benar-benar membingungkan. Aplikasinya sulit dimengerti dan kompleks (Belakangan saya mengetahui kalau ternyata ini adalah sebuah tampilan/desain baru Facebook. Berdasarkan hasil polling, Facebook-ers lebih menyukai desain yang lama). Kekecewaan mengalahkan rasa penasaran di hati saya. Akses Facebook saya hentikan, dan saya mencoba tetap eksis di Friendster. Seiring waktu berlalu, Friendster makin hari makin terasa seperti ’situs mati’ yang ditinggalkan para netter. Ketika saya konfirmasi, banyak user-nya beralasan hijrah ke Facebook. Rasa penasaran yang dulu sempat hilang, kini timbul lagi. Ditambah lagi dengan berbagai ekspos oleh media mengenai Facebook. Akhirnya, saya kembali menyambangi Facebook. Kali ini saya serius mempelajarinya karena ternyata saya temukan bahwa pasangan saya ternyata telah menjadi member di Facebook juga. Bahkan saya juga mendaftarkan Kawasaki Ninja Motor Club (KANIMOCU) MEDAN sebagai member di Facebook.
Hasilnya kali ini, lumayan… ya, ada beberapa aplikasi yang layak diunggulkan dan mempunyai kelebihan dibandingkan dengan Friendster. Fasilitas chatting yang menjadi kegemaran kaum muda sudah bisa diakses secara langsung. Kita juga bisa memberi comment langsung pada setiap status teman-teman kita. Intinya, interaksi di Facebook terasa lebih langsung dan dekat, dibandingkan dengan sistem interaksi di Friendster.
Tapi interaksi langsung tanpa melalui proses klarifikasi inilah yang terkadang membawa dampak negatif bagi user-nya. Banyak kasus perkelahian, putus hubungan, atau cerai karena komentar-komentar yang tidak bertanggungjawab. Ironis, sistem interaksi yang mestinya memudahkan komunikasi ini malah menjadi bumerang buat penggunanya. Banyak juga kasus pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat Facebook. Alasannya, banyak pegawai yang menjadi malas dan menurun produktifitas kerjanya akibat terlalu sering mengakses Facebook. Fenomena booming Facebook sampai menyita perhatian para ulama yang tergabung dalam Majelis Ulama Indonesia (MUI). MUI menngeluarkan fatwa yang mengharamkan Facebook dengan alasan situs ini bisa digunakan sebagai media transaksi seks bebas (trafficking dunia maya). Sebuah alasan yang menurut saya, terlalu berlebihan.
Apapun jejaring sosial yang Anda gunakan, efek negatif atau positifnya tergantung dari cara dan tujuan Anda menggunakannya. Situs pertemanan bisa menjadi produktif dan membantu kegiatan bisnis Anda dengan menambah banyak relasi, atau sebaliknya, mengganggu kehidupan sosial Anda di dunia nyata. Gunakanlah dengan bijak! Positif atau negatif sebuah hal, tergantung dari cara Anda memanfaatkannya.
Tapi yang jelas, Facebook telah mengubah kebiasaan pagi saya sesampainya di kantor. Bukan, bukan kebiasaan browsing saya di pagi hari, tapi situs apa yang kini saya buka terlebih dahulu di pagi hari. Facebook, sebuah fenomena baru di dunia maya.
Jadi, setelah membaca blog ini, silahkan akses ke situs www.facebook.com dan lihat profil saya atau berkenalan langsung melalui sebuah situs di dunia maya yang kini menjadi fenomena.
ID Facebook : Cecen Core
Email : co_re666@yahoo.com
URL Facebook : http://www.facebook.com/coreycen
Email KANIMOCU MEDAN : kanimocu_mdn@yahoo.co.id
URL Facebook KANIMOCU MEDAN : http://www.facebook.com/kanimocu
Salam,
ARISANDY JOAN HARDIPUTRA, S.E.
0 Responses to “Fenomena Jejaring Sosial Dunia Maya”
Leave a Reply