24
Mar
09

Saatnya Memilih ‘Tuhan’

Tinggal hitungan minggu sebelum sebagian dari masyarakat kita –tentu saja yang memenuhi persyaratan- akan menentukan nasib bangsa ini melalui even  Pemilihan Umum (Pemilu). Partai apa dan caleg (calon legislatif) mana serta siapa orang nomor 1 di Indonesia nantinya? Sepenuhnya ada di tangan Anda.
Tulisan ini bukan bermaksud menjelek-jelekkan suatu partai atau tokoh tertentu, apalagi berkampanye…ENGGAK BANGET! Saya hanya akan mengajak Anda –calon pemilih- untuk merenungkan sejenak sebelum membubuhkan tanda check list pada gambar partai atau caleg pilihan Anda tanggal 9 April 2009 nanti. Tulisan ini juga merupakan sekuel dari blog saya terdahulu dengan judul Tuhan-tuhan Palsu di Negara Kita.

Pertama dari sistem kampanye itu sendiri. Di negeri tercinta kita ini, berkampanye dengan sistem atribut dan konvoi sepertinya masih menjadi favorit para juru kampanye. Saya tidak keberatan dengan atribut, tapi pengaturan pemasangan seharusnya lebih jelas, sehingga atribut-atribut tidak sembarangan terpasang, menimbulkan kesan semrawut dan jorok. Ditambah lagi dengan atribut yang ditempel pada tembok dengan menggunakan lem, tentunya hal itu akan merusak cat tembok saat atribut terkelupas. Atau atribut yang ditempel di pepohonan dengan menggunakan paku. Padahal kita sedang menggalakkan program ‘Stop Global Warming!’ yang salah satu caranya dengan melestarikan tumbuh-tumbuhan.

Belum lagi berbagai macam pelanggaran kampanye. Pendukung partai & caleg berkonvoi, menimbulkan kemacetan lalu lintas. Hal ini tentunya mengganggu pemakai jalan yang lain. Apalagi tabiat mereka yang sembarangan dan ugal-ugalan di jalan, mengancam keselamatan para pemakai jalan. Para peserta konvoi pengguna roda dua juga tak mau kalah dalam menciptakan pelanggaran. Tidak memakai helm dan pendukung keselamatan berkendara lainnya, menggeber-geber gas, dan sebagian bahkan memotong/melepas silencer knalpot, sehingga menimbulkan suara yang sangat bising. Ditambah dengan aksi anarki yang dilakukan oleh sekelompok peserta. Saya juga seorang bikers KANIMOCU MEDAN, jadi saya juga kesal dengan perlakuan mereka yang merusak reputasi bikers. Sebuah aksi negatif hanya demi men-tuhan-kan seseorang atau partai tertentu.

Masih ada lagi daftar pelanggaran dalam berkampanye. Dalam UU 10 Tahun 2008 tentang Pemilu Anggota DPR, DPD, dan DPRD, pasal 84 ayat (2) huruf j, disebutkan : “Pelaksana kampanye dalam kegiatan kampanye dilarang mengikutsertakan Warga Negara Indonesia yang tidak memiliki hak memilih.” Tetapi kenyataan di lapangan, masih banyak anak-anak yang diikutsertakan dalam kampanye. Apalagi dengan suguhan tari erotis. Sebuah pekerjaan rumah tambahan bagi Panitia Pengawas Pemilu. Dasar hukum pelanggaran tersebut telah diatur dalam pasal 271 yang berbunyi : “Setiap pelaksana kampanye yang melanggar larangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 84 ayat (2), dikenai pidana penjara paling singkat 3 (tiga) bulan dan paling lama 12 (dua belas) bulan dan denda paling sedikit Rp30.000.000,00 (tiga puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah).”

Terima kasih kepada aparat Kepolisian yang telah dengan tegas menindak para pelaku pelanggaran di jalan raya saat berkampanye.

Apa inti dari tulisan saya kali ini? Pertama, saya mengajak Anda semua berfikir lebih dalam. Mampukah para tuhan ini membawa bangsa ke arah yang lebih baik? Sedangkan dalam berkampanye yang melibatkan sebagian kecil rakyat Indonesia saja, udah tidak bisa mengatur. Bagaimana mau memimpin bangsa jika masih belum bisa menyelesaikan konflik internal partainya? Bagaimana mau memimpin bangsa dengan menggunakan logika yang rasional jika dalam proses menjadi anggota legislatif harus melalui ritual yang berbau klenik/mistis? Bukan hanya syirik, tetapi juga SANGAT BODOH!

Kedua, saya mengajak Anda untuk memilih partai atau caleg yang berorientasi pada perubahan atau kemajuan negeri tercinta kita. Jangan terbuai dengan janji-janji para caleg. Perhatikan proses kampanye mereka, dari cara berkampanye, semestinya kita bisa mengetahui kualitas suatu partai.

Ketiga, saya juga meminta Anda untuk tidak memilih aksi Golongan Putih (golput). Pilihlah partai yang paling baik menurut nurani Anda. Ingat, ini pesta demokrasi, Anda yang menentukan kemana arah nasib bangsa kita. Dengan melakukan aksi golput, berarti Anda pasrah terhadap apapun nasib yang menimpa bangsa ini. Golput berarti pengecut, golput menyia-nyiakan hak Anda sebagai seorang Warga Negara Indonesia. Dengan melakukan aksi golput, berarti Anda tidak ikut berpartisipasi membangun bangsa ini.

Mari, bersama-sama kita memilih yang terbaik. Saatnya memilih tuhan.
Aku cinta Indonesia!

Salam,

Arisandy Joan Hardiputra, S.E.

I thought we the people had a brain
I thought we the people had a say
Coulda sworn I read it somewhere,
Mighta seen it on a bumper sticker

I though we the people had a right
I guess we the people we’re wrong
We the people are on
Let’s go elect another god

The love they make
I don’t give a damn anyway
Rules are made to break
Too big too mean too blind
The *Indonesian dream
Or a bag of magic beans
You can fight on tv
Whatever you need

Send me your tired
Your poor and broken
Send me your life
So I can break you

We the people can have a plan
We the people can make a stand

Coulda swore I read it somewhere
Mighta seen it in the funny papers
Your money’s made to take
Too cheap to steal, to rob
I could tell you had a dream
That busted at the seams
You can get it on the tv
Whatever you need

Give me your trust
Your faith and wishes
Give me your life
So I can own you
Control YOU!

Hope I sell out
Every day there’s something new to try
Every day there’s something new to buy
Every day there’s a new *Indonesian dream
In the broken land of opportunity

(MUDVAYNE - We The People)

* original version : American




0 Responses to “Saatnya Memilih ‘Tuhan’”


  1. No Comments

Leave a Reply