27
Feb
09

Horor di Rumah Baru

Rumah besar yang dijual atau disewakan dengan harga murah biasanya memiliki sebuah ‘cerita’ dibaliknya.
Tepat awal bulan Pebruari lalu gw bareng 3 orang temen kantor ngontrak di sebuah rumah yang lumayan besar di daerah Gaperta, Medan (sorry, demi kebaikan bersama, gak gw tulis alamat lengkapnya). Rumah yang tergolong cukup luas itu terdiri atas 6 kamar tidur dan 2 kamar mandi, serta halaman yang mengitari bagian depan serta samping rumah. Di bagian depan rumah dilengkapi dengan pagar besi, sedangkan di bagian kiri tertutup tembok beton yang dilapisi semen. Rumah itu terbilang relatif cukup murah. Disewakan setahun dengan harga 15 juta rupiah. Harga yang membikin kami berempat meneteskan air liur. Penawaran yang bagus.
Yang unik dari rumah baru kami adalah suasananya yang begitu sunyi, walaupun di siang hari. Malam hari… tak usah ditanya, serasa di desa atau kalau boleh dibilang kota mati, sunyi dan gelap. Hal itu terjadi bukan tanpa alasan. Jalan gang yang melintasi rumah kami merupakan gang buntu. Tetangga depan memang ada, tapi posisi rumah mereka membelakangi rumah kami. Sedangkan tetangga sebelah kanan awalnya merupakan rumah kosong. Di antara rumah tetangga sebelah dengan rumah kami terdapat sebuah kebun yang hanya dipisahkan oleh pagar kawat. Di balik tembok semen juga terdapat sebuah kebun yang tak terurus, ditumbuhi oleh pohon pisang, semak belukar dan ilalang. Dan yang baru kami tahu setelah beberapa hari menempati rumah itu adalah ternyata di antara semak belukar tersebut, ada beberapa makam/kuburan. Itupun kami tahu dari agen air mineral yang hendak mengantar ke rumah. Seakan tak percaya, gw membuktikan sendiri ketika memasang antena televisi. Gw sendiri yang memanjat tembok semen sebelah dan mengintip ke lahan kosong di sebelah rumah. Benar saja, beberapa makam dan batu nisan terlihat menyembul, tersamar dari balik semak-belukar dan pohon pisang. Sejak kejadian itu, kami merasa tak nyaman saat malam hari berada di rumah sendirian. Apalagi salah satu kamar mandi, terdapat jendela yang menghadap langsung ke arah kuburan. Di rumah kami ini, binatang juga enggan menampakkan diri. Tak seperti rumah lain pada umumnya yang selalu ribut dengan kecoa, tikus, atau cicak. Kami malah merindukan kehadiran mereka, karena rumah kami ini betul-betul bersih dari segala jenis hewan, kecuali nyamuk dan semut. Rumah tanpa binatang…Mmm…patut dicurigai. Tapi di halaman depan rumah kami sering terlihat seekor kucing mondar-mandir. Kucing ini juga berbulu warna hitam legam.
Cerita horor pertama dialami oleh temen gw, si Andi. Ketika larut malam, dia menjemur pakaian di depan rumah. Kebetulan tempat jemuran kami berada dekat tembok semen tersebut. Saat sedang asyik menjemur itulah, dia mendengar ada suara perempuan yang tertawa. Bulu kuduk Andi merinding, tapi dia pura-pura cuek. Sampai kemudian didengarnya kembali suara tertawa, tapi kali ini bukan suara perempuan, melainkan suara anak kecil. Akhirnya setelah selesai menjemur semua pakaiannya, dia-pun lari terbirit masuk ke dalam rumah.
Suatu malam gw sendirian menonton tv dalam kamar, pintu kamar juga tidak tertutup rapat, hanya celahnya yang ‘mengintip’. Temen-temen gw yang lain tidak berada di rumah saat itu. Ketika asyik menonton tv, di sudut mata gw nampak seperti ada yang mengintip dari celah pintu. Ketika gw tengok, tidak ada siapapun…atau apapun. Gw cuek aja dan kembali menonton televisi. Kembali dari sudut mata gw nampak seseorang (atau mungkin sesuatu) yang lewat di depan pintu kamar. Hal ini terjadi sampai 3 kali, sampai akhirnya gw keluar kamar dan memeriksa semua ruangan di rumah, tak ada siapapun. Sadar sedang ‘dikerjain’, akhirnya pintu kamar gw tutup sepenuhnya dan kembali melanjutkan aktivitas sambil pasang sikap cuek.
Rabu dini hari tanggal 25 Pebruari 2009 gw sengaja tidak tidur malam demi menonton big match liga champions, Inter Milan vs Manchester United di tv. Dari malam hari gw maen Playstation2 di ruang tengah untuk mengusir kantuk. Teman-teman gw yang laen udah pada tidur. Sekitar pukul 01.30 WIB, tiba-tiba terdengar suara anjing yang terus-terusan menggonggong sambil sesekali dia melolong. Melolong? Oh, tidak… Anda tidak salah baca & gw juga tidak salah tulis. Suara anjing yang jelas-jelas melolong seperti seekor serigala. Sebelumnya gw pernah dengar kalau anjing berlagak seperti itu, bisa jadi tuh binatang melihat atau merasakan sesuatu, makhluk halus misalnya. Busyet, pikiran gw langsung kacau balau & hati jadi tak tenang. Tapi gw berpura-pura cuek sambil terus memainkan game Winning Eleven di PS2. Sampai akhirnya pintu kamar gw terbuka sendiri sambil berdecit. Aneh…padahal tak ada angin, posisi semua pintu dan jendela juga tertutup.. Lalu gw mendengar di jendela ruang tengah –yang menghadap ke gang kecil di belakang rumah, suara anak kecil yang berteriak, seperti kesakitan…tersiksa. Spontan bulu kuduk gw berdiri, merinding. Jantung berdetak kencang dan keringat dingin keluar. Gw beranikan diri menengok ke belakang, ruang dapur yang gelap… tidak ada siapapun (baca: apapun)… Untunglah! Tak berani ambil risiko, gw cabut ke kamar dan tidur. Acara sepakbola-pun terlewatkan. Fenomena yang sama juga terjadi pada temen kantor kami yang menumpang nginap di rumah. Ketika sedang asyik tidur di ruang tengah, dari arah jendela terdengar suara-suara anak kecil yang menjerit -persis seperti yang gw dengar sebelumnya.
Entah bagaimana kami berempat bisa nyasar di rumah itu. Yang jelas, kontrak setahun udah kami lunasi. Mau-tak mau, kami harus bertahan disana dan mencoba untuk betah. Kami berusaha membikin rumah itu senyaman mungkin. Kadang juga gw mengajak teman-teman datang dan menginap, termasuk teman-teman Kawasaki Ninja Motor Club (KANIMOCU) Medan yang punya reputasi sebagai biangnya pesta.
Makhluk halus atau apapun jenisnya, bagi gw masih merupakan kontroversi. Bisa jadi alam bawah sadar kita ter-sugesti, sehingga menimbulkan halusinasi yang berlebihan. Keberadaan dan karakternya merupakan misteri. Bagaimana menyikapinya? Terserah Anda. Tetapi bagi gw, gangguan apapun jangan sampai menghalangi aktivitas kita. Bagaimanapun, kita semua punya tujuan sebagai seorang individu (baca: manusia). Kita juga dibekali oleh akal/pikiran yang membuat kita mampu berfikir dan menganalisa suatu hal dengan logis. Anda takut? Itu wajar, tapi sekali lagi, jangan jadikan rasa takut Anda sebagai alasan untuk menunda atau membatalkan aktivitas ataupun rencana Anda.
Wallahu’alam!




4 Responses to “Horor di Rumah Baru”


  1. 1    Uty February 28, 2009 at 9:39 am

    Sumpah!!! kalo aq tinggal di rumah itu mungkin aq lebih memilih tuk ajak tambahan teman tinggal bareng aq dalam satu kamar tentunya.

    Serem aja lagi!!

    Tapi siip buat cerita nya, buat jantung ini dag-dig-dug. Btw, kalo jumpa ma tu penghuni rumah tak di kenal titip salam yach????
    Bilangin Pintu Rumah Que terbuka lebar tuk dia. Ha…….Ha………..Ha…………

  2. 2    Dilla March 1, 2009 at 4:07 am

    Ya, ampun Cen.. merinding nie. Mana bacanya pagi2 gini. La emang sie sering denger suara aneh. Tapi ga nyata gitu. Cuma ga sepi aja rasanya kalo begadang. Dan ga usil kayak di tempat Cen. Parah!

  3. 3    denni kanimocu March 7, 2009 at 11:05 am

    horor banget bro..nyantai aja,biasa kan tidur bugil..mbak kunti pasti cabut wakakaka…salting doi liat barang mu wakakaka

  4. 4    putri June 6, 2009 at 2:32 pm

    gpp lah bang,,
    sekalian uji nyali juga tinggal dsitu..

    alumni Stie harapan ya??
    salam kenal ya..
    aq juga anak harapan..
    hehehe

Leave a Reply